Pada hari Sabtu, 26 September 2025, pukul 09.00 WIB, Ruang Rapat Psikologi menjadi saksi sebuah diskusi yang inspiratif dan visioner. Bertajuk “Sharing Session bersama Dr. Aini Maznina”, pertemuan ini menghadirkan wawasan mendalam tentang masa depan penelitian di lingkungan perguruan tinggi Islam. Notulis Didik Widiantoro, M.Psi., Psikolog dan Irfani Rizal, M.Psi., mendokumentasikan berbagai poin krusial yang dibahas.
Sesi ini diawali dengan sebuah pemaparan fundamental dari Dr. Aini: bahwa penelitian yang dilakukan di perguruan tinggi Islam memiliki potensi dan tanggung jawab untuk melampaui pendekatan ilmiah konvensional. Kunci utamanya adalah mengintegrasikan epistemologi Islam ke dalam jantung kegiatan riset. Ini bukan sekadar menambahkan kutipan ayat Al-Qur’an, tetapi membangun sebuah paradigma penelitian yang holistik.
Integration Research: Sebuah Kerangka Baru
Dr. Aini memaparkan tiga langkah strategis dalam proses integrasi ini, yang dijabarkan sebagai “Adopt, Formulate, and Develop”.
-
Adopt (Mengadopsi): Langkah pertama adalah memperluas dasar pengetahuan. Dalam penelitian integratif, sumber pengetahuan tidak hanya bersandar pada akal (
'aql) dan observasi indrawi semata, tetapi juga secara aktif menjadikan Wahyu (Al-Qur’an dan Hadis) sebagai landasan utama. Dengan demikian, terbentuklah triadigma sumber pengetahuan yang kokoh: Wahyu + Akal + Observasi. Paradigma ini memastikan bahwa pencarian ilmu tetap berada dalam koridor ketuhanan dan kemanusiaan. -
Formulate (Merumuskan): Setelah mengadopsi sumber-sumber tersebut, langkah selanjutnya adalah merumuskan masalah penelitian, metodologi, dan instrumen yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Ini adalah proses menerjemahkan prinsip-prinsip wahyu ke dalam desain penelitian yang operasional.
-
Develop (Mengembangkan): Tahap puncak dari proses ini adalah melahirkan kerangka teori, model, atau konsep baru yang khas dan autentik dari perspektif Islam. Hasil penelitian diharapkan tidak hanya menyumbang pada khazanah ilmu universal, tetapi juga memberikan solusi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam bagi permasalahan umat.
Tantangan di Hadapan
Meski visioner, perjalanan menuju integrasi ini tidak tanpa hambatan. Dr. Aini mengidentifikasi beberapa tantangan signifikan:
-
Sikap Skeptis: Masih banyak kalangan, baik internal maupun eksternal, yang meragukan validitas dan objektivitas penelitian yang mengintegrasikan wahyu. Epistemologi Barat yang sekuler masih sering dianggap sebagai satu-satunya standar kebenaran ilmiah.
-
Keterbatasan SDM: Kurangnya sumber daya manusia yang benar-benar kompeten dan mendalam baik dalam disiplin ilmu konvensional maupun dalam ilmu-ilmu keislaman (
ulum al-din) menjadi kendala utama.
Langkah Strategis dan Masa Depan
Menjawab tantangan tersebut, dirumuskan beberapa langkah konkret:
-
Kolaborasi: Memperkuat jejaring dan kolaborasi penelitian antar-disiplin, menghubungkan para ahli syariah dengan ilmuwan sosial, sains, dan teknologi untuk menciptakan pendekatan yang komprehensif.
-
Publikasi: Mendorong publikasi hasil-hasil penelitian integratif di jurnal-jurnal bereputasi, baik nasional maupun internasional, untuk membangun kredibilitas dan diskursus akademik.
-
Mentoring: Peran mentor (pembimbing) perlu diperkuat. Dosen-dosen senior diharapkan dapat menjadi pembimbing dan pendamping yang aktif bagi dosen muda dan mahasiswa dalam merancang dan melaksanakan penelitian berbasis integrasi ini.
Ke depan, Dr. Aini juga menyampaikan rencana untuk mengadakan proses islamisasi bagi para dosen. Program ini tidak dimaknai secara sempit, melainkan sebagai upaya pendalaman dan internalisasi nilai-nilai Islam dalam berpikir dan berkarya. Proses ini diharapkan dapat membuat peran dosen sebagai pendidik dan peneliti semakin bermakna, dan yang terpenting, setiap jerih payah dalam menuntut dan mengembangkan ilmu dicatat sebagai amal shalih yang berkelanjutan (jariyah).
Sharing session ini ditutup dengan semangat optimisme. Integrasi epistemologi Islam dalam penelitian bukan lagi sebuah wacana, melainkan sebuah keniscayaan yang harus diwujudkan untuk membangun peradaban ilmu yang rahmatan lil ‘alamin.