Fakultas Psikologi

Catatan Perjalanan Akademik

Belajar dari Amsterdam : Refleksi untuk Masa Depan Psikologi UIR

Perjalanan ini bermula jauh sebelum kaki saya menjejakkan tanah Eropa. Ia dimulai dari sebuah surel yang masuk pada bulan Oktober, dikirim oleh Dr. Bertjan Doosje, supervisor Saudari Tengku Nila Fadhlia di University of Amsterdam. Surel itu berisi undangan untuk menghadiri ujian sekaligus pengukuhan gelar doktor mahasiswanya. Undangan yang secara redaksional tampak sederhana, namun membawa beban moral dan makna yang tidak ringan, karena di dalamnya tersimpan kepercayaan, penghormatan, dan harapan.

Pada awalnya, saya diliputi keraguan. Belum ada kepastian dukungan formal dari universitas, sementara waktu pengurusan visa semakin sempit. Jadwal akademik padat, tanggung jawab institusional menunggu, dan realitas administratif sering kali tidak sejalan dengan niat baik. Namun di tengah semua pertimbangan rasional itu, ada satu hal yang terus mengetuk batin saya: janji. Janji yang telah saya sampaikan kepada Nila, dan juga kepada supervisornya, bahwa saya akan berusaha hadir. Di titik ini saya belajar kembali bahwa integritas akademik tidak hanya diukur dari jabatan, publikasi, atau gelar, tetapi juga dari kesungguhan menunaikan kata-kata.

Keputusan untuk berangkat akhirnya tidak saya ambil sendirian. Dukungan datang dari orang-orang terdekat. Istri saya menjadi penguat pertama, “berangkatlah, uang bisa dicari” Begitu kalimat yang saya ingat. Dukungan juga datang dari kolega dosen, terutama Pak Yanwar dan Mas Didik, yang memberi keyakinan bahwa perjalanan ini bukan sekadar urusan personal, melainkan memiliki nilai simbolik dan strategis bagi institusi. Teman² yang semangat nitip oleh² untuk Nila dari makanan, buku, sampai Pak Ahmad yang menitipkan produk Antam menjadi energi tersendiri. Satu lagi yang tak mungkin saya lupakan yakni Mas Aji Cahyadi sahabat sejak s1; cerita, motivasi dan waktu untuk menemani saya ke ITC Mangga Dua untuk cari perlengkapan mengadapi salju adalah bekal berharga selama perjalanan.

Sambil menunggu kepastian, saya melakukan riset kecil tentang sosok yang akan saya temui. Saya membuka Google Scholar dan melihat rekam jejak akademik Dr. Bertjan Doosje. Lebih dari 38.000 sitasi. Angka yang dengan mudah menunjukkan bahwa beliau bukan akademisi sembarangan. Dari sini saya justru belajar satu hal penting tentang etika keilmuan: akademisi besar tidak perlu memaksa orang lain untuk menyitir karyanya, apalagi pada topik yang jauh berbeda.

Kualitas akan menemukan jalannya sendiri. Sebuah refleksi yang terasa relevan dengan dinamika akademik yang sering kita jumpai di tanah air.
Sekitar satu bulan sebelum jadwal final exam, saya baru berangkat ke Jakarta untuk mengurus visa melalui VFS. Dalam sebuah status WhatsApp, saya menulis singkat: mission impossible. Semua terasa serba mepet dan tidak ideal. Namun, seperti banyak hal dalam hidup, takdir sering kali bekerja di luar perhitungan manusia. Alhamdulillah, hanya dalam waktu empat belas hari, visa Schengen sudah berada di tangan. Saya sampaikan kepada Nila, setengah bercanda setengah yakin, bahwa jika memang sudah takdir, saya akan sampai di sana.

Saya mengira drama perjalanan berhenti sampai di situ. Ternyata belum. Saat memesan tiket penerbangan dengan Emirates, saya lupa mencantumkan nama ayah, sementara di visa nama ayah tercantum karena paspor saya telah mengalami penambahan nama. Kesalahan kecil, namun berdampak besar. Singkat cerita, tiket harus direfund dan saya membeli tiket baru menggunakan Qatar Airways. Saya sempat tertawa sendiri, mungkin memang saya tidak ditakdirkan menggunakan penerbangan milik UEA yang dalam banyak hal terasa lebih mirip Israel daripada negara Arab. Sebuah candaan kecil untuk menghibur diri di tengah pikiran yang lagi kalut.

Drama berikutnya datang dari cuaca. Bandara Schiphol ditutup akibat badai salju, ribuan orang terdampar karena pesawat banyak yang dicancel atau delay, dan ada yang menyebut penerbangan ke Amsterdam saat itu sebagai perjudian. Namun saya merasa masih memiliki satu “jimat” yang paling ampuh: doa seorang ibu. Saya menelepon beliau, meminta didoakan agar perjalanan ini dimudahkan. Dan sekali lagi, Allah menunjukkan kuasa-Nya. Pada tanggal 6 Januari, Schiphol justru cerah meski hanya untuk satu hari. Setelah itu badai kembali datang, termasuk badai besar yang membuat Amsterdam terasa seperti freezer raksasa. Suhu minus tiga derajat, dengan feels like minus dua belas. Alhamdulillah, kehangatan tubuh yang dibawa dari Indonesia, ditambah adrenalin karena dapt pengalaman baru, ternyata cukup untuk bertahan selama delapan hari.

Kehadiran saya di Amsterdam kemudian menjadi lebih dari sekadar menghadiri satu agenda akademik. Di kota ini, saya bertemu dan berdiskusi dengan berbagai komunitas diaspora Indonesia. Ada yang bekerja di sektor profesional, ada yang membuka usaha, dan ada pula yang telah lama menetap dan memahami denyut kehidupan kota ini, dan yang penting tentu dengan pada pelajar yang menempuh PhD di Belanda. Mereka bukan hanya menjadi mitra diskusi yang hangat, tetapi juga menjadi penopang nyata selama saya berada di Amsterdam, termasuk dengan menampung saya. Dari mereka saya belajar bahwa diaspora bukan sekadar individu yang hidup di luar negeri, tetapi jejaring sosial, ekonomi, dan intelektual yang sangat berharga bagi pengembangan institusi di tanah air.

Di sela-sela kegiatan akademik, saya juga berkesempatan bertemu dengan Prof. Mahfud MD yang beliau di sana karena menghadiri ujian doktoral anak beliau Dr. Ikhwan yang menyelesaikan studi tepat 2 hari setelah Nila Ujian. Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog yang memperkaya perspektif, mempertemukan isu kebangsaan, hukum, demokrasi, dan tanggung jawab intelektual diaspora Indonesia di luar negeri. Pesan beliau: “jangan lelah mencintai Indonesia”. Selain itu, saya juga terlibat dalam komunitas diskusi yang sangat hidup, yang diinisiasi oleh para aktivis Indonesia di Belanda. Diskusi ini berlangsung hangat, kritis, dan jujur, membahas isu sosial, kemanusiaan, migrasi, keadilan, dan masa depan Indonesia dari sudut pandang yang lebih luas dan global. Komandannya adalah Pak Siswo, dulunya dosen ISI Yogyakarta yang sekarang sudah jadi permanent resident di Belanda.

Kembali ke lingkungan kampus, pengalaman berada di University of Amsterdam memberikan kesan yang sangat kuat. Kampus ini tidak hanya besar dan bereputasi, tetapi juga hidup dalam sistem yang bekerja dengan baik. Proses akademik dan administratif berjalan melalui sistem digital yang terintegrasi, transparan, dan efisien. Hal ini memungkinkan dosen dan mahasiswa memusatkan energi mereka pada pengembangan ilmu, riset, dan diskursus akademik, tanpa tersandera oleh birokrasi yang melelahkan.

Fasilitas kampus tidak tampil sebagai kemewahan, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab institusi terhadap keadilan akademik. Ruang belajar yang nyaman, akses literatur yang luas, dukungan riset yang jelas, serta perhatian terhadap kesehatan mental menciptakan lingkungan akademik yang manusiawi. Relasi antara dosen dan mahasiswa terasa dialogis, setara secara intelektual, kritis, namun tetap beradab. Mungkin ungkapan Atmosfer Pendidikannya Hidup terasa lebih tepat.
Momen pengukuhan gelar doktor Saudari Tengku Nila Fadhlia menjadi simbol penting dalam perjalanan ini. Ia menegaskan bahwa anak bangsa mampu berdiri sejajar di panggung akademik dunia ketika diberi ruang, kesempatan, dan dukungan sistem yang tepat. Kebanggaan ini bukan semata kebanggaan personal, melainkan kebanggaan institusional dan nasional.

Interaksi dengan masyarakat Belanda sendiri memberikan pelajaran kultural yang sangat relevan dengan psikologi. Mereka dikenal lugas, jujur, disiplin, dan menghargai waktu serta privasi. Kejelasan aturan justru menciptakan rasa aman psikologis. Komunikasi yang asertif mengurangi konflik laten, dan ketepatan waktu menjadi bentuk penghormatan terhadap sesama. Nilai-nilai ini terasa selaras dengan prinsip psikologi modern dan patut direfleksikan dalam pengembangan budaya akademik di lingkungan kita sendiri.

Pengalaman paling menggugah tetap datang dari interaksi dengan para aktivis yang mendampingi migrant undocumented asal Indonesia. Di ruang inilah psikologi hadir dalam wajahnya yang paling manusiawi. Trauma, kecemasan, rasa takut, dan harapan hadir berdampingan dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman ini menegaskan bahwa psikologi bukan hanya tentang teori dan ruang kelas, tetapi juga tentang keadilan sosial, advokasi, dan keberpihakan pada kelompok rentan. Saya sempat diminta membuat video motivasi yang arahnya ke konseling untuk dibagikan ke komunitas migrant yang jumlahnya 400an.

Saya kembali ke tanah air bukan dengan koper oleh-oleh, melainkan dengan koper pengalaman, refleksi, dan gagasan. Perjalanan ini menegaskan keyakinan saya bahwa Fakultas Psikologi Universitas Islam Riau memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi pusat keilmuan yang kuat secara sistem, berorientasi internasional tanpa kehilangan identitas keislaman, peka terhadap isu kemanusiaan dan kebijakan publik, serta mampu mengintegrasikan pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat secara nyata.
Amsterdam bukan untuk ditiru secara utuh, melainkan dipelajari secara kritis. Kita memiliki konteks dan tantangan sendiri. Namun nilai keteraturan, integritas akademik, keterbukaan, dan keberpihakan pada martabat manusia adalah nilai-nilai universal yang layak kita bawa pulang.

Perjalanan ini mengingatkan saya bahwa tugas seorang dekan bukan hanya mengelola fakultas, tetapi menjaga mimpi kolektif. Mimpi tentang psikologi yang bermakna, adil, membumi, dan memberi kontribusi nyata bagi umat dan bangsa. Dan sering kali, mimpi besar itu bermula dari satu surel, satu janji, satu doa ibu, dan satu keberanian untuk berangkat.

Facebook
Twitter
LinkedIn